Banjar, 15 Agustus 2026 — Sebuah lembar kertas sederhana menjadi media bagi murid laki-laki MTs Assalam untuk belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan mereka. Melalui kegiatan Kelas BK Klasikal Laki-Laki, murid kelas VII Al-Bashir, VIII Al-Aziz, dan IX Ar-Rasyid mengikuti aktivitas menulis kata-kata reflektif yang kemudian dituangkan menjadi karya origami.
Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 12.00 WITA di Aula MTs Assalam bersama Guru BK Muhammad Maulani Hermawan, S.Pd. Suasana kegiatan dibuat lebih terbuka agar murid dapat mengikuti proses tanpa tekanan dan memiliki ruang untuk menuangkan sesuatu yang terkadang sulit disampaikan secara lisan.
Pada tahap awal, murid diajak memikirkan kata yang paling menggambarkan perasaan, harapan, pengalaman, atau pesan yang ingin mereka ungkapkan. Kata tersebut kemudian dituliskan pada kertas yang telah disiapkan. Tidak ada tuntutan agar tulisan dibuat panjang. Justru, satu kata atau kalimat singkat dapat menjadi awal untuk mengenali apa yang sedang dirasakan.
Setelah menuliskan kata-kata tersebut, murid melanjutkan kegiatan dengan melipat kertas menjadi bentuk origami. Proses melipat dilakukan secara bertahap hingga tulisan yang sebelumnya berada pada lembar kertas berubah menjadi sebuah bentuk yang memiliki nilai visual.
Aktivitas ini memberikan pengalaman bahwa mengungkapkan perasaan tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan panjang. Tulisan dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan sesuatu yang tersimpan dalam pikiran. Sementara itu, origami menjadi simbol bahwa sebuah perasaan dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih positif dan bermakna.
Bagi sebagian murid, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat kembali apa yang sedang mereka pikirkan. Proses menulis membantu murid mengenali kata-kata yang muncul dari dalam diri, sedangkan kegiatan melipat memberikan suasana yang lebih santai dan menyenangkan.
Guru BK mendampingi kegiatan sekaligus memberikan ruang kepada murid untuk mengikuti proses sesuai kenyamanan masing-masing. Kegiatan berlangsung lancar dengan murid terlibat langsung mulai dari menentukan kata, menuliskannya, hingga menghasilkan origami.
Melalui aktivitas sederhana tersebut, layanan BK tidak hanya menjadi tempat menerima nasihat, tetapi juga ruang bagi murid untuk belajar mengenal dan mengekspresikan diri. Dari sebuah kata di atas kertas, kemudian menjadi bentuk origami, tersimpan proses kecil tentang keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam diri. (MTs/Ahmad)


0 Komentar