Latihan pernapasan diafragma menjadi bagian penting dalam pembelajaran public speaking karena berkaitan langsung dengan kemampuan mengatur keluarnya udara saat berbicara. Melalui teknik yang benar, Murid diarahkan agar suara tidak hanya terdengar lebih kuat, tetapi juga tetap nyaman digunakan tanpa memberikan tekanan berlebihan pada tenggorokan.
Pada sesi teori, Murid dikenalkan dengan peran diafragma yang berada di bawah paru-paru. Penggunaan pernapasan diafragma membantu memberikan aliran udara yang lebih stabil sehingga suara dapat terdengar lebih penuh dan berwibawa. Teknik tersebut juga membantu mengurangi ketegangan pada bagian leher dan tenggorokan ketika Murid harus berbicara dalam waktu yang cukup lama.
Untuk mengenali teknik tersebut, Murid diminta berdiri tegak dengan bahu rileks. Satu tangan diletakkan di dada dan tangan lainnya di bagian perut. Saat menarik napas melalui hidung, bagian perut diarahkan mengembang sementara dada tetap relatif tenang. Ketika udara dikeluarkan, perut perlahan mengempis.
Latihan kemudian dilanjutkan dengan pengendalian udara melalui pola 4-4-8, yakni menarik napas selama empat hitungan, menahannya selama empat hitungan, kemudian menghembuskannya secara perlahan selama delapan hitungan. Murid juga melakukan latihan desis dengan bunyi “Sss...” untuk melatih kestabilan aliran udara.
Setelah itu, latihan vokal dilakukan menggunakan bunyi A-I-U-E-O. Murid diarahkan membuka mulut dengan tepat dan mengalirkan suara secara stabil. Teknik tersebut kemudian diterapkan dalam pembacaan bagian pembuka pidato agar artikulasi terdengar jelas dan bertenaga.
Melalui latihan bertahap ini, Muhadaroh tidak sekadar mengajarkan Murid untuk berani tampil, tetapi juga membekali mereka dengan teknik dasar agar mampu menyampaikan gagasan secara lebih terkontrol. Pernapasan yang baik diharapkan menjadi fondasi bagi kemampuan pidato, menjadi pembawa acara, Da’i, maupun bentuk public speaking lainnya. (MTs/Ahmad)

0 Komentar